wkwkwkwk….

October 20th, 2007 by asramihardi

Di langit kutitipkan resahku ini

Di kata kuberharap

Mampu menghalau segala rasa gundah dihatiku

Karena kau telah bakar api

Tanpa kusadari, ooh, di jiwaku

Akan kurangkai semua

Kata cinta yang ada di bumi ini

Jadikan seikat kembang

Agar kau tahu semua isi hati

Semoga ‘kan kau terima

Hasratku yang tulus untukmu

Dan janganlah kau biarkan

Harapan ditelan waktu

Cinta…

October 25th, 2006 by asramihardi

Suatu ketika, terdapat sebuah pulau tempat tinggal seluruh perasaan: Kebahagiaan, kesedihan, pengetahuan, dan masih banyak lagi yang lain. Termasuk diantaranya, CINTA. Suatu hari di umumkan kepada seluruh perasaan bahwa pulau tersebut tidak lama lagi akan tenggelam, sehingga seluruh perasaan yang ada segera mempersiapkan perahunya untuk pergi.

Cinta ingin terus bertahan hingga detik-detik terakhir. Saat pulau hampir tenggelam, barulah cinta berpikir untuk meminta bantuan. Kekayaan lewat didepannya dengan kapal yang megah. Cinta berkata,  "kekayaan, bolehkah aku pergi bersamamu?" kekayaan menjawab, "tidak bisa, kapalku penuh dengan emas dan permata, tidak ada lagi ruang yang tersisa."

Cinta memutuskan untuk bertanya pada kesombongan yang melewatinya dengan kapal yang indah. "kesombongan, tolong selamatkan aku!", "cintaku sayang, aku tidak bisa membantumu. Kamu basah sekali,  nanti merusak kapalku yang indah".

Kesedihan tampak berlayar didekat pulau. Cinta pun berteriak "kesedihan, ijinkan aku pergi bersamamu!". "Aduh cinta, aku terlalu sedih. Sekarang aku hanya ingin menyendiri, kamu tidak bisa ikut denganku".

Setelah beberapa saat, kebahagiaan pun tampak di kejauhan, tapii..dia terlalu bahagia sehingga dia tidak mendengar saat cinta memanggilnya,

Tiba-tiba terdengar suara, "cinta, ikutlah denganku". Muncullah sosok tua dengan kapalnya yang tak kalah tua namun berkesan agung dan anggun berwibawa. Cinta merasa sangat bersyukur, langsung naik ke kapal. Akibat terlalu girang bisa selamat dari pulau perasaan yang tenggelam, saat mencapai daratan kering, cinta lupa menanyakan nama sosok tersebut hingga sosok tersebut hilang menjauh ditelan cakrawala, melanjutkan perjalanannya.

Sadar betapa besar utang budinya kepada sosok tua tersebut, cinta pun bertanya kepada pengetahuan, sesepuh para perasaan yang ditemuinya di pulau itu. "Siapakah yang telah menolongku?", "dia adalah Waktu!", jawab pengetahuan. "Waktu?" tanya cinta setengah tidak percaya. "Tapi mengapa waktu bersedia menolongku?" pengetahuan tersenyum dengan penuh kebijaksanaan dan menjawab, "karena hanya waktu yang dapat memahami betapa besar arti sebuah cinta".

Kisah Sang Maestro Matsushita

October 4th, 2006 by asramihardi

Sekarang ini, kita semua tahu ‘krisis ekonomi’.
Walau sudah berlalu, gemanya masih terasa sampai saat ini.
Pengaruhnya terhadap cara hidup, luar biasa besarnya.

Kalangan atas, berguguran.
Kalangan menengah ke bawah, pontang-panting.
Kerusakan yang ditimbulkan tidak kita ragukan lagi.
Tapi … kebayang gak seh, situasi yang lebih gawat
daripada krisis ?

Di tahun 1929, pernah terjadi ‘depresi ekonomi global’.
Wall Street menukik tajam tak terkendali.
Surat saham tak lebih nilainya seperti kertas biasa.

Saat itu, General Motor terpaksa mem-PHK separo dari
92.829 karyawannya. Perusahaan besar maupun kecil bangkrut.

Jutaan orang menjadi pengangguran. Jutaan orang kelaparan.
Daya beli turun bersama harga dan lowongan pekerjaan.

Malam menjadi gelap gulita.
Kepanikan terjadi di mana-mana.
Toko yang masih bertahan, menghentikan pembelian dari
pabrik karena gudang sudah penuh dengan barang yang tidak terjual.

Saat itu, Konosuke Matsushita yang memproduksi peralatan
listrik bermerek National dan Panasonic baru saja merampungkan
pabrik dan kantor dengan pinjaman dari Bank Sumitomo.

Kondisi badannya sering sakit-sakitan akibat gizi yang
kurang dimasa kanak-kanak, ditambah lagi dengan kerja 18 jam sehari,
7
hari seminggu selama 12 tahun merintis usahanya. Hanya semangat
hiduplah
yang membuatnya masih bernapas.

Dengan punggung bersandar ke tembok rumah, Matsushita
mendengarkan laporan tentang kondisi perekonomian yang terus memburuk
ketika manajemennya datang menjenguk. Lalu bagaimana tanggapannya ?

"Kurangi produksi separonya, tetapi JANGAN mem-PHK
karyawan. Kita akan mengurangi produksi bukan dengan merumahkan
pekerja,
tetapi dengan meminta mereka untuk bekerja di pabrik hanya setengah
hari.

Kita akan terus membayar upah seperti yang mereka terima
sekarang, tetapi kita akan menghapus semua hari libur. Kita akan
meminta semua pekerja untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha
menjual
semua barang yang ada di gudang."

Perintah ini bagi anak buahnya sama anehnya dengan depresi
ekonomi itu sendiri. Koq bisa terjadi, yah ?

Dalam situasi begitu, sangatlah masuk akal jika perusahaan
mem-PHK karyawan demi efisiensi. Namun Matsushita karena
keyakinannya pada sang kebajikan sudah mantap, demi kelangsungan
hidup
anak-istri karyawannya, akhirnya mampu menghasilkan terobosan yang
manusiawi pada masa depresi ekonomi tersebut.

Kebajikan Matsushita terhadap karyawannya mendapatkan
hasil yang manis 16 tahun kemudian dari karyawan yang pernah
ditolongnya.
Ia menuai buah kebajikannya sendiri.

Ketika Perang Dunia II berakhir, Jenderal Douglas McArthur
yang mengendalikan Jepang, menangkapi semua pengusaha Jepang
untuk diadili karena keterlibatan mereka selama perang.

Pada kurun 1930-an, para pengusaha Jepang, termasuk
Matsushita, mendapat tekanan rezim militer Jepang saat itu untuk
memproduksi senjata dan logistik militer lainnya. Maka Matsushita pun
ikut ditangkap.

Sekitar 15.000 pekerja bersama keluarganya membubuhkan
tanda tangan petisi pembelaan untuk Matsushita !!! Jenderal McArthur
pun tercengang oleh petisi tersebut dan akhirnya membebaskan
Matsushita.

Tidak ada pemilik usaha dan pimpinan industri sebelum
perang dunia kedua yang diizinkan McArthur kembali ke pekerjaannya
kecuali Matsushita.

Demikianlah Matsushita dapat terus memimpin perusahaannya
sampai menjadi raksasa elektronik dunia, dan baru pensiun ada
tahun 1989 pada usia 94 tahun.

Ketika Matsushita meninggal tahun 1990, bukan cuma para
pebisnis yang berduka cita. Presiden Amerika saat itu, George Bush (
Senior ), pun turut berduka.

Matsushita berhasil membangun dirinya melewati ambang
batas pengusaha yang umumnya selalu lapar duit dan haus fulus serta
menjadi pribadi yang humanis dan filsuf yang sangat peduli terhadap
kemanusiaan.

Bagi Matsushita, uang bukanlah tujuan.
Meskipun butuh uang tetapi uang bukanlah segala-galanya.
Baginya, uang adalah sarana untuk melakukan kebajikan.

Itu sebabnya, beliau tidak pernah menggigit orang, main
curang, atau merebut jatah orang lain. Matsushita yakin bahwa kalau
kita tidakjahat dan terus berbuat baik maka kejahatan akan menjauhi
kita dan kebaikan akan melindungi kita.

Bagaimana dengan kita ?
Sudah cukup baikkah kita hari ini ?

============ =====

As long as we have memories, yesterday remains..
As long as we have hope, tomorrow awaits..
As long as we have friendship, each day is never a waste.

(Submitted By : Thle…)
************ ********* ********* ********* ********* ********* ******

Kata Bijak Hari Ini.

Anda tidak bisa merencanakan masa mendatang berdasarkan
masa lalu

(Edmund Burke)